Artikel Singkat Tentang Kondisi Alam Indonesia


Berikut adalah contoh artikel singkat tentang “Kondisi Alam Indonesia”

Dengan letak geografisnya yang unik. Indonesia menjadi negara dengan banyak keistimewaan dari sudut flora dan fauna. Untuk flora, ada tumbuhan kopi, cokelat, sampai pada aneka jenis pisang, mangga, juga anggrek yang hanya ditemukan di wilayah Indonesia. Untuk fauna, ada sejumlah satwa yang juga hanya dapat ditemukan di wilayah Indonesia, mulai dari komodo yang tergolong berukuran besar, buaya, sampai pada jenis serangga yang eksotis. Perhatikan beberapa gambar di bawah ini yang menunjukkan rupa dari para satwa itu.

Sayangnya, wilayah Indonesia juga tiada hentinya ditimpa bencana karena banyaknya jumlah gunung berapi dan posisi pulau serta kepulauan Indonesia yang terletak di antara tiga lempengan bumi, yaitu Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur. Akibatnya, banyak terjadi erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor.

Gunung Merapi yang terletak di Jawa Tengah termasuk salah satu gunung yang sering meletus dan mengganggu kehidupan penduduk di kaki gunung dan sekitarnya dalam radius 15 km. Selain gunung Merapi, gunung Sinabung di Sumatera Utara dan Gunung Lokon di Sulawesi Utara juga sering meletus sejak tahun 2010 dan 2011 yang lalu. Dari berbagai sumber, mungkin kalian juga tahu gunung-gunung berapi lainnya yang sering meletus.

Namun, letusan yang dianggap paling dahsyat adalah dari Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda, yaitu antara Pulau Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa wilayah Barat yang terjadi pada tahun 1883. Mengapa dikatakan dahsyat? Karena dentuman letusan itu terdengar sampai ke Benua Australia yang berjarak ratusan kilometer jauhnya dan getaran karena bergoncangnya bumi (yang biasa kita sebut gempa bumi) terasa sampai ribuan kilometer jauhnya.

Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dianggap berdampak paling besar bagi masyarakat di Sumatera Utara, khususnya Banda Aceh dan sekitarnya. Tsunami ini melanda juga Srilanka dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, namun jumlah korban jiwa di Indonesia termasuk yang paling besar, yaitu lebih dari 100.000 orang.

Pada umumnya, bencana seperti ini memang terjadi di luar kontrol manusia. Ini sungguh-sungguh menunjukkan bahwa ada yang mengatur dinamika perubahan alam semesta. Sebagai manusia, yang kita dapat lakukan adalah menghindar bila memang ada bencana yang akan menimpa kita. Badan Meteorologi dan Geofisika mengeluarkan peringatan apabila memang akan terjadi bencana tsunami dan letusan gunung berapi. Mereka yang tinggal di radius tertentu dari bencana yang akan muncul diimbau untuk pindah ke tempat yang lebih aman.

Untuk wilayah negara Indonesia, bencana alam akibat ulah manusia cukup sering terjadi. Contoh paling nyata adalah banjir yang terjadi sejak puluhan tahun lamanya di berbagai tempat. Penyebabnya jelas, karena mendangkalnya sungai akibat bertumpuknya sampah. Cukup banyak penduduk di bantaran sungai yang menjadikan sungai sebagai tempat akhir pembuangan sampah. Pada tanggal 10 November 2020, Walikota Bogor, Bima Arya, mengarungi Sungai Ciliwung dari Kota Bogor sampai ke Jakarta di pintu air Manggarai dan menemukan puluhan lokasi pembuangan sampah secara liar di sepanjang sungai itu (metro.tempo.co, 2020).

Selain banjir, bencana alam lainnya karena ulah manusia adalah kebakaran hutan yang tersulut oleh api. Memang betul bahwa kebakaran hutan disebabkan juga oleh kemarau panjang yang membuat tanaman menjadi sangat kering dan mudah terbakar bila terkena percikan api. Api itu bisa terjadi karena ada percikan batubara. Namun, yang juga sering terjadi adalah api yang berasal dari pembakaran hutan yang dilakukan secara sengaja karena lahan mau dimanfaatkan untuk fungsi pertanian, perkebunan, pemukiman, ataupun fungsi lainnya.

Indonesia terkenal sebagai negara yang memproduksi minyak dari kelapa sawit. Ada periode ketika perkebunan kelapa sawit tiba-tiba dibuka dengan mengubah hutan menjadi lahan kelapa sawit. Beberapa kali negara Indonesia mendapat teguran dari negara-negara Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam karena asap dari kebakaran hutan di wilayah Indonesia yang berlangsung berminggu-minggu sampai berbulan-bulan lamanya sungguh mengganggu penerbangan dan kehidupan masyarakat yang terkena. Sejak tahun 2015, telah terjadi kebakaran hutan yang menghanguskan lebih dari 2 juta hektar hutan dan lahan (tirto.id). Dari catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sepanjang tahun 2020 hingga bulan September, kebakaran serupa terjadi di 32 provinsi mencakup luas 120 ribu hektar. Apakah hal ini dapat dibiarkan saja karena kita cenderung menyalahkan cuaca dan iklim panas dan kering? Tentunya tidak!