3 Kualitas Yajña dan 7 Syarat untuk Mendapatkan Yajña yang Sattwika


Kualitas Yajña sangat dipengaruhi oleh ketulusan seperti halnya ketulusan Dewi Sītā kepada Śrī Rāmā. Implementasi pada kehidupan dalam melaksanakan nilai-nilai ajaran yang bersumber dari Kitab Rāmāyana, yaitu karya (adanya perbuatan), sreya (ketulus ikhlasan), budhi (kesadaran), dan bhakti (persembahan).

Ketulusan dari semua pihak dalam pelaksanaan Yajña menjadi unsur utama. 

Dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan yang ada. Yajña yang menggunakan sarana dan prasarana mewah mungkin akan berhasil dengan baik. 

Namun, keberhasilan sebuah Yajña bukan ditentukan oleh besar kecilnya materi yang dipersembahkan, tetapi ditentukan oleh kesucian dan ketulusan hati. 

Kualitas yajña tersebut dijelaskan dalam Bhagavad Gita XVII.11, 12, dan 13 dengan uraian sebagai berikut (Pudja, 2004).

aphalākāṅkșibhir yajño vidhi-dṛșțo ya ijyate yașțavyam eveti manaḥ samādhāya sa sātvikaḥ

Terjemahannya:

Yajña menurut petunjuk kitab-kitab suci yang dilakukan oleh orang tanpa mengharap pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini sebagai tugas kewajiban, adalah sātvika.
(Bhagavad Gita XVII.11)

abhisandhāya tu phalaṁ dambhārtham api caiva yat ijyate bharata-śreșțha taṁ yajñaṁ viddhi rājasam

Terjemahannya:

Tetapi yang dilakukan dengan mengharap ganjaran, dan semata-mata untuk kemegahan belaka, ketahuilah, wahai Arjuna, yajña itu adalah bersifat rajas.
(Bhagavad Gita XVII.12)

vidhi-hinam asṛșțānnaṁ mantra-hinam adakșiṇam śraddhā-virahitaṁ yajñaṁ tāmasaṁ paricakșate

Terjemahannya:

Dikatakan bahwa, Yajña yang dilakukan tanpa aturan (bertentangan), di mana makanan tidak dihidangkan, tanpa mantra dan sedekah, serta tanpa keyakinan dinamakan tamas.
(Bhagavad Gita XVII.13)

Berdasarkan uraian sloka Bhagavad Gita XVII. 11, 12, 13 diatas, ada tiga kualitas yajña, yaitu:
  1. Satwika yajña adalah yajña yang dilaksanakan berdasarkan sradha, lascarya, sastra agama, daksina, mantra, gita, annasewa, dan nasmita;
  2. Rajasika yajña adalah yajña yang dilakukan dengan mengharap ganjaran, dan semata-mata untuk kemegahan belaka; dan
  3. Tamasika yajña adalah yajña yang dilakukan tanpa aturan (bertentangan), di mana makanan tidak dihidangkan, tanpa mantra dan sedekah, serta tanpa keyakinan dinamakan.

Dari tiga kualitas pelaksanaan yajña tersebut di atas, ada tujuh syarat yang wajib dilaksanakan masyarakat Hindu untuk mendapatkan yajña yang sattwika, yaitu
  1. Sradha artinya melaksanakan yajña dengan penuh keyakinan;
  2. Lascarya artinya yajña yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan;
  3. Sastra artinya melaksanakan Yajña dengan berlandaskan sumber sastra, yaitu sruti, smrti, sila acara, dan atmanastusti;
  4. Daksina, yaitu pelaksanaan yajña dengan sarana upacara (benda dan uang);
  5. Mantra dan gita, yaitu yajña yang dilaksanakan dengan melantunkan lagu-lagu suci untuk pemujaan;
  6. Annasewa adalah yajña yang dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan kepada para tamu yang menghadiri upacara (atiti yajña); dan
  7. Nasmita adalah yajña yang dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan.