Pesan Alkitab tentang Menolak Diskriminasi


Pesan Alkitab tentang Menolak Diskriminasi adalah mau peduli dan menjadi sesama bagi orang lain. Bahkan, terhadap orang yang memusuhi dan menjauhkan diri daripadanya (Lukas 10:25-7).

Artinya kita hidup bukan hanya untuk orang atau kelompok tertentu saja, melainkan juga terhadap orang lain tanpa memandang ras, etnis, agama, dan gender.

Berikut adalah uraian tentang Pesan Alkitab tentang Menolak Diskriminasi.

Kisah menarik tentang stereotip dan diskriminasi dapat kita temukan dalam Yohanes 4 ayat 1-42, tentang percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria. Kemungkinan besar kalian pernah mendengar kisah ini atau malah sudah membacanya di dalam Alkitab. Bila memang kalian belum pernah mengetahui tentang kisah ini, silakan baca perikop tersebut. Dalam catatan Hagelberg (2010), orang Yahudi biasanya menghindari daerah Samaria ini. Mereka lebih rela melakukan perjalanan ke Galilea dengan menyusuri lembah Yordan yang membuat jarak ke Galilea menjadi lebih jauh.

Yesus sengaja memilih melewati daerah Samaria karena memang jaraknya menjadi lebih dekat. Yesus tahu bahwa ada satu tugas besar yang akan dilakukan-Nya di situ. Apakah tugas yang menanti Yesus? Mari teruskan membaca ke ayat-ayat berikutnya. Yesus merasa haus dan berjumpa dengan seorang perempuan Samaria di Sumur Yakub. Perempuan itu terkejut, karena ada laki-laki Yahudi yang mau bertegur sapa dengannya. Bukankah orang Yahudi biasanya menghindar dan menjauhkan diri dari orang Samaria yang dianggapnya kotor dan menjijikkan karena darah mereka tercampur dengan darah orang-orang Asyur, yang menjajah negeri itu pada tahun 733 SM.

Ayat 9 menyatakan, “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria).”

Apa yang dikatakan oleh perempuan Samaria itu adalah stereotip yang berlaku di masa itu. Di mana bagi orang Yahudi, orang Samaria adalah orang yang tidak perlu diperhitungkan. Bahkan, orang Yahudi tidak mau memakai peralatan makan yang telah dipakai sebelumnya oleh orang Samaria. Jadi bagi perempuan itu, sangatlah aneh bahwa Yesus, yang jelas-jelas pria Yahudi, mau meminta air kepadanya. Namun, kita lihat bahwa Yesus melewati dua batasan budaya yang ada, yaitu orang Yahudi menyapa bahkan meminta pertolongan dari orang Samaria, dan secara batas sosial, yaitu seorang lakilaki yang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.

Yesus tidak peduli dengan kebiasaan orang Yahudi pada masa itu. Ia bersedia berbicara dengan perempuan Samaria itu. Dari percakapan-Nya dengan perempuan itu, Yesus menemukan masalah-masalah yang digumulinya. Dari situlah, perempuan itu kemudian menyadari bahwa yang ia jumpai bukan orang biasa. Dengan sukacita, perempuan itu kemudian memberitakan kabar baik perjumpaannya dengan Yesus kepada sanak saudaranya.

Percakapan yang terjadi antara Yesus dan perempuan Samaria ini mulai membuka mata murid-murid-Nya bahwa misi Yesus adalah menyelamatkan bukan hanya orang Yahudi, melainkan juga bangsa-bangsa lain. Perempuan Samaria ini yang begitu tersentuh dengan perkataan dan penerimaan Yesus kepadanya, bahkan mengajak orang-orang Samaria lainnya di kota itu untuk ikut menemui Yesus. Bahkan atas undangan mereka, Yesus tinggal bersama mereka selama dua hari (ayat 40).

Percakapan ini menunjukkan perubahan besar yang terjadi pada perempuan Samaria yang malah tidak disebutkan namanya sama sekali. Perubahan apa sajakah? Perubahan dari melihat Yesus sekadar sebagai laki-laki Yahudi yang begitu hausnya, sehingga mau meminta air dari seorang perempuan Samaria (ayat 9), berubah melalui percakapan dengan Yesus, ia melihat Yesus sebagai seorang rabi (ayat 11), kemudian nabi (ayat 19, dan akhirnya Mesias (ayat 29) yang dalam kepercayaan orang Samaria juga berasal dari suku Israel.

Secara sederhana, kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika satu pihak sudah melepaskan stereotipnya saat berinteraksi dengan pihak yang berbeda jenis kelamin, etnis, kepercayaan, maka pihak yang satu pun akan melepaskan stereotip yang dimilikinya. Sebaliknya, bila individu merasa positif terhadap karakteristik yang dimilikinya ras, etnis, agama, dan gender. Ia tidak akan terlalu terganggu dengan berbagai stereotip dan stigma yang dikenakan orang lain terhadap dirinya. Ia tetap dapat produktif, menghasikan karya-karya yang memang ia ingin hasilkan sebagai suatu bukti bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki manfaat bagi sesamanya.

Orang Samaria kemudian dijadikan pahlawan dalam perumpamaan Yesus tentang orang yang mau peduli dan menjadi sesama bagi orang lain. Bahkan, terhadap orang yang memusuhi dan menjauhkan diri daripadanya (Lukas 10:25-7).

Kelak, ketika gereja perdana berdiri, pemberitaan Injil juga dilakukan oleh Filipus kepada orang-orang Samaria (Kisah Para Rasul 8:12-17). Dari sini kita melihat dengan jelas bahwa sejak pelayanan Yesus kepada orangorang Samaria, gereja perdana pun mengikuti jejak-Nya dan memberitakan Injil kepada mereka. Dengan demikian, gereja perdana tidak mempraktikkan diskriminasi. Tidak ada seorang pun yang ditolak untuk menjadi pengikut Yesus dan bergabung ke dalam gereja Tuhan di muka bumi.

Sayangnya di kemudian hari, memang terjadi diskriminasi di kalangan gereja. Ketika Mohandas Gandhi — yang kelak dikenal dengan sapaan Mahatma — tinggal di Afrika Selatan. Ia ingin sekali pergi ke gereja. Gandhi telah lama mempelajari Alkitab dan ia ingin mengenal Yesus lebih dalam dengan ikut kebaktian di gereja. Namun apa daya sang pengacara muda itu ditolak oleh satu gereja kulit putih di Capetown. Gandhi berkata, “I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.” (Aku tidak suka orang-orang Kristen seperti kalian. Orang-orang Kristen begitu berbeda dengan Kristus). Kata-kata yang sungguh menerpa orang-orang Kristen yang menolak seseorang untuk datang kepada Kristus dan menjadi bagian dari gereja.

Hal yang sama terjadi selama ratusan tahun di Amerika Serikat ketika diskriminasi dipraktikkan dengan segregasi. Segregasi bermakna “pemisahan”. Sekolah-sekolah, bus-bus, WC umum, restoran, perumahan, berbagai pelayanan publik, bahkan gereja pun dikenai pemisahan. Orang-orang kulit hitam tidak boleh bercampur dengan orang-orang kulit putih karena mereka dianggap najis. Baru kemudian setelah perjuangan yang panjang oleh Dr. Martin Luther King, Jr., sedikit demi sedikit, praktik itu ditinggalkan. Akan tetapi, dalam kenyataannya, diskriminasi di Amerika Serikat belum benar-benar musnah. Perhatikan apa yang disebut dengan gerakan “Black Lives Matter” pada tahun 2020, yang disebabkan oleh tewasnya seorang kulit hitam yang bernama George Floyd.