Keterkaitan Diskriminasi dengan Prasangka, Stigma, dan Stereotip


Berikut adalah uraian tentang keterkaitan diskriminasi dengan prasangka, stigma, dan stereotip.

Kita dapat mengaitkan pembahasan diskriminasi dengan prasangka, stigma, dan stereotip karena keempatnya saling terkait erat. Penjelasan tentang keterkaitan keempat hal ini dapat kita pahami dari uraian berikut (lumenlearning, 2020).

1. Stereotip adalah pembuatan kesimpulan sederhana tentang sekelompok orang berdasarkan ras, etnis, usia, gender, orientasi seksual, atau karakteristik apa pun. Apabila dikenakan kepada in-group atau kelompoknya (termasuk pemberi stereotip itu), sifatnya adalah positif.

Misalnya, orang bersuku Jawa akan mengatakan bahwa orang bersuku Jawa memiliki perilaku “sabar”, tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Akan tetapi, apabila stereotip ini dikenakan oleh out-group atau kelompok di luar mereka yang dikenakan stereotip itu, sifatnya menjadi negatif. Tentang tingkah laku “sabar” yang tadi disebutkan oleh orang dari suku Jawa, oleh orang dari suku lain, misalnya Batak Toba, akan dikategorikan sebagai “lamban” (Suleeman, 2013).

Jadi, stereotip tidak memperhitungkan bahwa ada perbedaan individu pada karakteristik yang disebutkan itu. Dari mana stereotip berawal? Pada umumnya diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bahkan dari satu kelompok kepada kelompok lainnya. Contohnya, stereotip yang dikenakan kepada mereka yang tergolong berkulit hitam di Amerika Serikat adalah stereotip yang semula dikenakan kepada imigran yang datang dari Eropa, khususnya dari Irlandia dan Eropa Timur.

2. Prasangka merujuk pada keyakinan, pikiran, perasaan dan sikap yang dimiliki seseorang terhadap suatu kelompok. Disebut prasangka karena memang tidak dibentuk berdasarkan pengalaman pribadi, melainkan karena dugaan semata-mata. Jadi, sifatnya sangatlah subjektif (Major & Dover, 2016). Satu eksperimen yang baik tentang bagaimana prasangka berkembang digambarkan melalui film dokumenter berjudul Eye of the Storm (dipublikasikan pada tahun 1970). Dalam film itu, seorang guru sekolah dasar yang mengajar di kelas III bernama Jane Elliot memisahkan murid-murid di kelasnya berdasarkan warna mata mereka. Murid yang bermata biru diperlakukan sebagai murid yang lebih hebat, lebih pintar dibandingkan dengan murid-murid yang warna matanya bukan biru. Akibatnya, murid-murid yang bermata biru memiliki prasangka terhadap murid lain di luar kelompok mereka.

Prasangka banyak dikenakan berdasarkan ras atau etnis seseorang. Di Amerika Serikat, mereka yang berkulit putih menganggap bahwa orang yang kulitnya berbeda pantas untuk direndahkan, bahkan bila perlu dibunuh. Beberapa waktu yang lalu, Ku Klux Klan berperan besar sebagai organisasi yang anggotanya dirahasiakan dan mengklaim bahwa orang kulit putih dan Protestan adalah pemegang supremasi. Itu sebabnya mereka membenci orang yang berkulit lain, terutama kulit hitam, dan juga mereka yang tergolong Yahudi, Katolik, komunis. Untuk mencapai tujuannya, mereka sering melakukan teror terhadap kelompok-kelompok di luar kaum mereka.

3. Apabila prasangka berbentuk keyakinan, pikiran, perasaan dan kecenderungan bersikap, maka diskriminasi adalah tindakan yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

4. Stigma diartikan sebagai prasangka yang dikenakan kepada mereka yang memiliki karakteristik khusus dari etnis yang tergolong minoritas atau dari karakteristik kesehatan termasuk kesehatan mental (Parker, 2012). Misalnya, stigma terhadap mereka yang tergolong penderita sakit jiwa, penderita HIV/AIDS, korban perkosaan, dan sebagainya. HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini membunuh sel-sel CD4 atau T dalam sistem imun tubuh sehingga menyebabkan kekebalan tubuh menurun drastis. Tubuh tak lagi mampu melawan penyakit dan infeksi yang umumnya mudah dilawan oleh tubuh. HIV merupakan virus yang menyebabkan AIDS. Kepanjangan AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome.

Parker juga dengan tegas menyatakan bahwa akar dari prasangka, stigma, diskriminasi adalah pada ketidakseimbangan dari sudut kekuasaan. Di mana pihak yang lebih berkuasa dengan leluasa menekan pihak lain yang berbeda karakteristiknya agar tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti yang mereka miliki. Untuk Indonesia, ada beberapa konflik antaretnis dan agama yang pernah terjadi. Misalnya, di Ambon, Nangroe Aceh Darussalam, Poso, Kalimantan Barat, dan di berbagai daerah lainnya.

Dalam kajian Harahap (2018), konflik ini muncul karena perbedaan budaya yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Namun, konflik juga dapat timbul karena ada kesenjangan terhadap akses ekonomi yang merata antaretnis, suku, budaya, golongan, dan agama. Secara khusus, konflik antaragama diduga dipengaruhi oleh orientasi agama yang ekstrinsik, yaitu yang berasal dari perilaku agama sebagai sekadar ritual dan tidak cukup menghayati ajaran agama. Jadi, agama justru dipakai sebagai alat mencapai tujuan untuk menguntungkan diri sendiri atau golongannya demi mendapatkan kedudukan sosial dan kekuasaan.

Dari berbagai studi tentang prasangka, stereotip, dan diskriminasi, Stangor (2016), seorang peneliti di bidang psikologi sosial, menemukan bahwa seseorang cenderung untuk melakukan pengelompokan terhadap orang lain berdasarkan karakteristik mereka. Pengelompokan yang paling sering terjadi adalah berdasarkan ras, etnis, agama, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin. Manfaat dari adanya pengelompokan ini adalah adanya rasa kebersamaan yang memperkuat perasaan bahwa saya berharga. Sebaliknya, perasaan bahwa saya adalah golongan minoritas yang tidak disukai oleh golongan mayoritas menimbulkan perasaan terluka, bahkan marah. Tanpa kita sadari, stereotip kita gunakan ketika menghadapi situasi yang tidak begitu kita kenali, misalnya, saat berhadapan dengan orang yang baru dikenal. Sejumlah karakteristik tentang orang itu biasanya sudah muncul dalam benak kita yang kemudian mengatur bagaimana cara kita menghadapi orang tersebut.