Diskriminasi dalam Kehidupan Masyarakat Lengkap Dengan Contoh, Analisis dan Hasil Penelitiannya


Berikut adalah uraian tentang Diskriminasi dalam Kehidupan Masyarakat Lengkap Dengan Contoh, Analisis dan Hasil Penelitiannya.

Mari kita lihat lebih rinci bagaimana diskriminasi bertahan dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, kita akan melihat diskriminasi berdasarkan ras, etnis, dan gender. Kita akan mulai dengan membahas diskriminasi berdasarkan gender terlebih dulu.

Untuk negara dan masyarakat Indonesia, ada beberapa hasil penelitian tentang keberadaan diskriminasi gender yang memperlihatkan, bahwa diskriminasi seperti ini menjadi penyebab masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Yarrow dan Afkar (2020) melaporkan bahwa pada tahun 2019 ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa baik anak laki-laki maupun anak perempuan berusia 7-12 tahun ternyata sama-sama bersekolah. Padahal pada tahun 1970an, lebih banyak anak-anak laki yang bersekolah dibandingkan dengan anak perempuan. Akan tetapi, untuk yang berusia 16-18 tahun, komposisi yang tetap bersekolah antara laki-laki dan perempuan tidaklah sama. Kebanyakan wilayah, terutama wilayah desa, memiliki lebih banyak lakilaki yang bersekolah daripada perempuan, dan hanya sedikit sekali wilayah yang memiliki lebih banyak perempuan yang bersekolah daripada laki-laki. Penyebab paling utama mengapa perempuan tidak bersekolah ketika mereka sudah berusia di atas 12 tahun adalah karena mereka sudah menikah, atau kalau pun belum menikah, mereka repot mengurus rumah tangga. Penyebab lainnya adalah karena mereka yang sangat miskin merasa malu dengan kondisi mereka, dan karena itu memilih untuk keluar dari sekolah.

Suatu analisis tentang peranan pendidikan terhadap pemberdayaan perempuan disajikan oleh Samarakoon dan Parinduri (2015). Mereka mengumpulkan data dari 22,197 perempuan yang lahir antara tahun 1960 sampai 1987. Lamanya perempuan ini menyelesaikan pendidikan dikaitkan dengan apa saja tindakan yang mereka lakukan dalam keseharian, yang dibedakan menjadi empat hal sebagai berikut:
  1. Berapa jumlah anak yang mereka sudah miliki dan masih ingin miliki, dan seberapa jauh mereka mengerti tentang bagaimana memelihara kesehatan reproduksi khusus sebagai perempuan (misalnya meminum pil yang mengandung zat besi selama hamil, menyusui anak dengan air susu ibu, menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, dan seterusnya.).
  2. Apa saja cakupan dan jenis pengambilan keputusan yang mereka lakukan sendiri dan bersama suami.
  3. Apa saja harta yang mereka miliki.
  4. Aktivitas apa yang mereka ikuti di masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan sampai dengan jenjang SMA, menunjukkan perbedaan dengan perempuan lainnya yang memiliki jumlah tahun yang lebih sedikit dalam bersekolah. Perbedaan itu adalah dalam hal-hal sebagai berikut:
  1. Mereka memiliki jumlah anak yang lebih sedikit.
  2. Mereka lebih mau memakai metode kontraseptif untuk mengurangi jarak kelahiran antar anak dan mengurangi jumlah anak.
  3. Mereka lebih mengerti apa yang harus dilakukan bila hamil dan melahirkan: meminum pil yang menolong mereka memiliki zat besi yang cukup, serta mau menyusui anak dengan ASI bukan sekedar menggunakan susu formula, mau menerima suntikan tetanus sebelum kehamilan terjadi.
  4. Mereka lebih banyak memiliki barang-barang keperluan rumah tangga (alat memasak, misalnya) dan tidak semata-mata membelanjakan uang untuk membeli perhiasan.
  5. Mereka lebih mampu menghemat pengeluaran untuk belanja keperluan rumah tangga sebanyak 26%.

Walaupun hasil penelitian ini nampaknya sederhana, tetapi dampak yang dihasilkan tidaklah sederhana. Bertambah tingginya jenjang pendidikan yang dimiliki oleh perempuan ternyata memegang peran penting untuk menghasilkan anak-anak yang memiliki kualitas hidup yang baik selain juga membuat diri sendiri lebih mampu menata kehidupan yang lebih baik. Temuan ini sebetulnya sama dengan temuan yang ditemukan oleh peneliti-peneliti lain yang melakukannya pada perempuan dari negara-negara berkembang lainnya, misalnya pada perempuan di Bangladesh (Hashemi, Shuler, & Riley, 1996) dan Nigeria (Osili & Long, 2008).

Perempuan juga lebih banyak menjadi korban kekerasan (Komnas Perempuan, 2020). Tahun 2019 tercatat jumlah korban tertinggi dihitung sejak tahun 2008. Apabila pada tahun 2008 tercatat sebanyak 54,425 kasus, pada tahun 2019 tercatat sebanyak 432,471 kasus, naik dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencatat sebanyak 406,178 kasus. Kenaikan ini belum tentu langsung dapat diartikan sebagai bertambahnya jumlah kasus, tetapi paling tidak menunjukkan bahwa semakin banyak kasus yng dilaporkan karena semakin bertambahnya kesadaran masyarakat dan juga penyintas kekerasan untuk tidak berlama-lama mendiamkan kekerasan yang dilihat atau dialaminya. Hal lain yang cukup menyedihkan adalah bahwa kekerasan terhadap pe-rempuan, terutama kekerasan seksual, paling banyak terjadi di dalam lingkungan keluarga; istri yang mengalaminya dari suami, anak perempuan yang mengalaminya dari ayah kandung, ayah tiri, atau paman. Apa yang menjadi penyebab meningkatnya kasus kekerasan pada perempuan ini masih terus diteliti sehingga belum diperoleh jawaban yang pasti. Memang tidak mudah untuk melakukan hal seperti ini karena merupakan isu yang sensitif, yang dianggap tabu untuk dibahas secara terbuka.

Untuk diskriminasi tentang etnis dan ras, hasil survei yang dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada tahun 2018 (www.komnasham.go.id, 2019) menunjukkan bahwa primordialisme sangat perlu untuk dijunjung dan dipertahankan oleh lebih dari 80% responden pengisi survei. Ini terwujud dalam keinginan untuk hidup berdampingan dengan orang-orang dari suku yang sama. Padahal, Indonesia terdiri dari beragam etnis dan ras. Primordialisme menghalangi orang untuk berinteraksi dengan nyaman bila bertemu orang yang berbeda etnis dan ras.