Dasar Teologis untuk Setia


Dasar Teologis untuk Setia adalah “Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.” (Ulangan 7:9).

Berikut adalah uraian tentang Dasar Teologis untuk Setia.

Sebagai umat-Nya, tentu kita juga dituntut untuk setia. Kali ini kita akan belajar dari Nabi Yeremia yang mungkin tidak terlalu sering dibahas di dalam khotbah atau pelajaran Sekolah Minggu. Dalam Bab V sudah disinggung tentang kehidupan bangsa Yehuda, yaitu kepada siapa Nabi Yeremia diutus. Bila kalian ingin memahami lebih baik pergumulan Nabi Yeremia, bacalah seluruh kitab Yeremia, yang terdiri dari 52 pasal. Untuk keperluan pembahasan kesetiaan, kita akan coba mengkajinya dalam beberapa hal.

Nabi Yeremia adalah anak seorang imam bernama Hilkia. Dalam kajian Marx (1971), Yeremia adalah satu-satunya nabi yang dipilih Tuhan sejak dalam kandungan. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1:5).

Ada lagi sejumlah keunikan Nabi Yeremia. Ia juga tidak dibolehkan untuk menikah. “Firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya, “Janganlah mengambil isteri dan janganlah mempunyai anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan di tempat ini.” (Yeremia 16:1-2). Selama hidupnya, Nabi Yeremia mengalami bagaimana bangsa Yahudi berperang melawan Mesir dan Babel. Bahkan, ia juga merasakan bagaimana hidup dalam masa pembuangan ke Babel. Ia hidup dalam pemerintahan beberapa raja, yaitu Yosia, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia.

Usia Yosia saat menjadi raja Yehuda masih sangat muda, yaitu 8 tahun. Pada pemerintahan Yosialah terjadi pembaharuan hidup keagamaan. Yosia ingin hidup sesuai dengan petunjuk yang ditemukannya dalam kitab Taurat. Kitab Taurat ini ditemukan oleh Imam Hilkia, ayah Yeremia, di Bait Allah. Pembaharuan yang dilakukan Raja Yosia adalah dengan mengajak rakyatnya mengikrarkan kesetiaan mengikuti Tuhan (2 Raja-raja 23).

Sejumlah hal lain yang dilakukan adalah menghancurkan berbagai perkakas yang dipakai untuk menyembah para ilah, termasuk bukit-bukit pengorbanan, serta membunuh para imam yang mengajak rakyat menyembah dewa Baal. Sayangnya, Raja Yosia dibunuh oleh Raja Mesir. Penggantinya, Yoyakim dan Yoyakhin, tidaklah hidup seperti Raja Yosia dalam hal kesetiaan kepada Tuhan. Raja Babel malah menaklukkan kerajaan Yehuda dan mengangkut perkakas Bait Allah serta penduduk Yerusalem ke Babel.

Nabi Yeremia mulai menyuarakan perintah dan pesan Tuhan sejak zaman Raja Yosia hingga Raja Zedekia. Memang Tuhan sudah memilih Yeremia sebagai nabi sejak Yeremia masih di dalam kandungan. Namun Nabi Yeremia pertama kali mendengarkan firman Tuhan yang meneguhkan dia sebagai nabi pada tahun ketiga belas pemerintahan Raja Yosia. Pada masa pemerintahan Raja Yosia, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia, Yeremia menyampaikan firman Tuhan yang didengarnya agar raja dan rakyat mau sungguh-sungguh setia kepada Tuhan. Ini salah satu pernyataan Yeremia pada zaman Raja Yosia, “Pergilah menyerukan perkataan-perkataan ini ke utara, katakanlah: ‘Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman Tuhan. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman Tuhan, tidak akan murka untuk selamalamanya. Hanya akuilah kesa-lahanmu, bahwa engkau telah mendurhaka terhadap Tuhan, Allahmu, telah melampiaskan cinta berahimu kepada orangorang asing di bawah setiap pohon yang rimbun, dan tidak mendengarkan suara-Ku, demikianlah firman Tuhan.” (Yeremia 3:12-13).

Pada zaman Raja Yoyakim, ini salah satu pesan Tuhan yang disampaikan oleh Yeremia. “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan, bahkan sekalipun Konya bin Yoyakim, raja Yehuda, adalah sebagai cincin meterai pada tangan kanan-Ku, namun Aku akan mencabut engkau! Aku akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu, ke dalam tangan orang-orang yang engkau takuti, ke dalam tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan ke dalam tangan orang-orang Kasdim. Aku akan melemparkan engkau serta ibumu yang melahirkan engkau ke negeri lain, yang bukan tempat kelahiranmu; di sanalah kamu akan mati. Tetapi ke negeri yang mereka rindukan untuk kembali ke situ, mereka tidak akan kembali!” (Yeremia 22:24-27).

Pada zaman Raja Zedekia, ini salah satu firman Tuhan yang disampaikan Nabi Yeremia, “Beginilah firman Tuhan, Allah Israel, Sesungguhnya, Aku akan membalikkan senjata perang yang kamu pegang, yang kamu pakai berperang melawan raja Babel dan melawan orang-orang Kasdim yang mengepung kamu dari luar tembok; Aku akan mengumpulkannya ke dalam kota ini. Aku sendiri akan berperang melawan kamu dengan tangan yang teracung, dengan lengan yang kuat, dengan murka, dengan kehangatan amarah dan dengan kegusaran yang besar. Aku akan memukul penduduk kota ini, baik manusia maupun binatang; mereka akan mati oleh penyakit sampar yang hebat.” (Yeremia 21:4-6).

Mengenai para nabi palsu yang banyak pada masa itu, inilah firman Tuhan yang disampaikan Yeremia, “Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman Tuhan, dan yang menceritakannya serta menyesatkan umat-Ku dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman Tuhan.” (Yeremia 23:32).

Bagaimana reaksi mereka yang mendengarkan perkataan Tuhan yang disampaikan oleh Yeremia ini? Sangatlah wajar bila tidak ada yang mau men-dengarkan Yeremia. Ia bahkan dibenci dan banyak yang berusaha membiarkannya mati. Akan tetapi, semua ancaman dan perlakuan kejam kepada Yeremia tidak membuatnya gentar. Ia lebih takut apabila ia tidak menyuarakan kebenaran firman Tuhan daripada tunduk pada ancaman yang dilontarkan orang-orang kepadanya. Jika kita juga hadir pada masa itu, suara kenabian manakah yang lebih kita pilih, yang menyampaikan damai sejahtera bahwa semuanya akan berlangsung baik-baik saja atau suara yang bernada ancaman dan kehancuran? Tentu suara yang pertama, bukan? Padahal itulah yang disuarakan oleh para nabi palsu. Perlu kita perhatikan di sini bahwa menyampaikan firman Tuhan adalah suatu perbuatan yang penuh dengan risiko, karena pada dasarnya manusia bersifat membangkang kepada Tuhan sang Pencipta.

Namun, Yeremia menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan. Di balik semua ancaman yang Yeremia sampaikan, ia juga gencar menyampaikan janji Tuhan. Salah satunya tertera sebagai berikut, “... Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu.” (Yeremia 29:1-12).

Yeremia sangat mengasihi bangsa Israel dan ia sungguh-sungguh ingin agar bangsa Israel memiliki damai sejahtera Tuhan meskipun mereka berada dalam pembuangan. Itu sebabnya Yeremia tidak jemu-jemunya menyampaikan berkali-kali pesan Tuhan kepada umat-Nya. Sikap Nabi Yeremia ini sangatlah berbeda dengan Nabi Yunus (Yunus pasal 1-4). Setelah menolak perintah Tuhan untuk pergi ke Niniwe, Yunus kemudian mau menyampaikan seruan Tuhan agar bangsa Niniwe bertobat. Namun, Yunus memilih untuk menunggu kapan penghukuman Tuhan berlaku kepada bangsa Niniwe. Artinya, Nabi Yunus lebih memilih melihat bangsa Niniwe hancur dalam kebinasaan daripada hidup selamat karena sudah bertobat kepada Tuhan.

Dari uraian diatas dapat kita pelajari makna kesetiaan kepada Tuhan,yaitu:
  1. Percaya pada apa yang Tuhan firmankan karena itu akan digenapi-Nya.
  2. Tidak perlu takut saat menyampaikan kebenaran firman Tuhan.
  3. Memberitakan kebenaran firman Tuhan dilandasi oleh kasih yang tulus kepada mereka yang menerima pemberitaan ini.