Dasar Teologis untuk Keadilan Lengkap Dengan Contohnya


Dasar Teologis untuk Keadilan, yaitu: “Sebab Tuhan adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.” (Mazmur 11:7).

Tentu saja, setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang serupa dengan-Nya. Melakukan penghinaan apalagi sampai membunuh manusia lain sama dengan melanggar perintah Tuhan (Keluaran 20:13).

Beberapa ayat yang menegaskan pesan Tuhan tentang “adil”, antara lain:
  1. Yesaya 30:18b. “Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!”
  2. Mikha 6:8. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Berikut adalah uraian tentang Dasar Teologis untuk Keadilan lengkap dengan contoh peristiwa.

Untuk menghayati makna keadilan, mari kita merasakan bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Pada saat ini, cukup banyak siswa di SD, SMP, sampai SMA yang mengalami ketidakadilan dalam bentuk perundungan (bullying) karena mereka dianggap berbeda oleh yang menindas mereka secara sengaja. Akibatnya, mereka merasa sebagai orang yang sial, rendah diri, bahkan cukup banyak yang melakukan tindakan bunuh diri. Kasus terakhir yang bunuh diri karena menjadi korban perundungan terjadi pada tanggal 14 Januari 2020 pada N, siswa suatu SMP Negeri di Jakarta.

Analisis yang cukup menarik dari berbagai penelitian menemukan minimal dua kesamaan antara pelaku dan korban perundungan (Kawabata et.al, 2011; Pinquart, 2017). Pertama, pelaku perundungan juga tertekan karena mengalami tindakan tidak adil dan mereka melampiaskannya kepada orang lain yang tampak lemah, tidak berdaya, dan berbeda. Kedua, korban perundungan adalah mereka yang terbiasa diam saja, pasif, dan jarang menyuarakan pendapat pribadinya. Di rumah, hubungan korban dengan orang tua biasanya tidak akrab sehingga jarang ada percakapan dari hati ke hati dengan orang tua. Apalagi, pelaku perundungan biasanya mengancam korbannya agar tidak menceritakan perlakuan itu kepada orang lain. Dengan demikian, untuk beberapa waktu lamanya, pelaku cukup bebas melakukan tindakan perundungan berulang-ulang kepada korban yang sama. Sebagai akibatnya, korban tidak tahan dan bisa sampai pada keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

Dalam skala yang paling kecil, mungkin saja ada di antara kalian yang merasakan ketidakadilan di dalam lingkungan keluarga. Perbedaan perlakuan orang tua terhadap anak yang dianggap anak kesayangan dibandingkan dengan anak yang bukan kesayangan, atau membandingkan anak dengan anak lain yang dianggap lebih berhasil merupakan tindakan tidak adil kepada anak. Tidak ada satu pun individu yang suka jika ia dianggap jelek, bodoh, rendah, hina, dan berbagai label negatif lainnya. 

Menurut Sproul (2013), pemahaman bahwa Tuhan adalah hakim yang adil perlu dimiliki oleh setiap manusia. Pesan Alkitab tentang keadilan cukup banyak. Dapat dikatakan bahwa Alkitab menyajikan pemahaman yang utuh tentang keadilan. Semua perbuatan yang dilakukan manusia diperhitungkan oleh Tuhan karena Tuhan memiliki patokan yang jelas tentang mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam Roma 2:6-11. Bisa kalian duga berapa banyak jumlah kata “adil” dan berbagai turunannya (keadilan) di dalam Alkitab berbahasa Indonesia? Sedikitnya ada 575 di Perjanjian Lama dan 217 di Perjanjian Baru. Hanya 5 kitab di Perjanjian Lama (Rut, Kidung Agung, Yunus, Nahum, dan Hagai) serta 4 kitab di Perjanjian Baru (Galatia, Filemon, 2 Yohanes, dan 3 Yohanes) yang tidak memiliki kata “adil” di dalamnya.

Yesaya 30 ayat 18b menegaskan bahwa Allah adalah adil. Kita manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, jadi adil seharusnya juga sifat dan sikap yang kita sudah miliki. Apa artinya adil? Mari bayangkan situasi berikut.

Seorang ibu yang memiliki 13 anak, diwawancara oleh seorang wartawan yang ingin tahu, bagaimana cara ibu itu menerapkan kasih sayangnya. “Tentunya Ibu melakukan segalanya dengan adil, ya? Sama rasa, sama rata, dan membagi makanan sama banyak?” tanya wartawan. “Bukan sama rasa, sama rata, dan sama banyak,” jawab sang ibu. “Saya menerapkan adil dengan prinsip semua anak memiliki hak dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Makanan tersedia dan masing-masing mengambil sesuai dengan kebutuhannya. Mereka boleh saja mengambil sesuai dengan “jatah” masing-masing, tetapi apa gunanya saya memberikan kepada anak terkecil berusia 3 tahun makanan yang sama banyaknya dengan kakaknya yang berusia 15 tahun? Bila ada anak yang sakit, maka ia berhak untuk saya urus sampai ia sembuh kembali. Sementara itu, anak-anak lainnya akan mengatur pembagian tugas supaya semua pekerjaan yang ada tetap dapat diselesaikan dengan baik.” Perhatikan bahwa adil juga mencakup apa yang diterima oleh masing-masing pihak sesuai dengan kebutuhannya.

Gardner (1995) menyatakan bahwa keadilan yang Tuhan perlihatkan tidaklah sekadar untuk membedakan mana yang salah dari yang benar. Keadilan Tuhan terkait erat dengan sifat Tuhan sebagai Pengasih. Betul bahwa manusia sudah berdosa karena melanggar perintah Tuhan dan karena itu layak untuk mendapatkan hukuman. Namun, kasih Tuhan menyelamatkan manusia yang seharusnya menanggung akibat dosa yang diperbuatnya.

Sayangnya, belum tentu sifat asli untuk adil ini dipupuk oleh keluarga dan pendidikan. Di atas sudah dituliskan bahwa ada saja orang tua yang berlaku tidak adil terhadap anaknya sendiri dan ini tentu membekas dalam hati anak, bahkan sampai ia dewasa. Itu sebabnya, para nabi, Tuhan Yesus dan murid-murid Yesus termasuk Rasul Paulus, tidak bosan-bosannya berpesan tentang bersikap adil yang harus kita usahakan. Karena tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Ketika kita dapat melihat orang lain dalam kedudukan yang sederajat dengan kita atau ketika kita melihat orang lain yang tidak lebih berharga atau tidak lebih hina dari diri kita, kita dapat menerapkan prinsip keadilan ini.

Sejumlah penelitian terhadap pelaku kriminal yang menjalani hukuman karena membunuh (lihat Kristinawati, 2020) menemukan bahwa keluarga yang tidak berfungsi dengan baik, terutama dalam hal menghargai anak dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak akan menghasilkan individu yang bersikap pendendam dan agresif, atau sebaliknya, memiliki sikap rendah diri dan tidak berdaya. Penghargaan kepada pendapat anak akan memupuk rasa percaya diri anak yang berakibat pada munculnya rasa menghargai orang lain juga. Individu dapat merasakan bahwa ia sama berhar-ganya dan sama istimewanya dengan orang-orang lain sehingga tidak sulit baginya untuk mengakui bahwa setiap orang sama berharganya di hadapan Allah.

Bukan hanya keluarga, terrnyata lingkungan pergaulan juga memupuk ketidakberdayaan anak sejak dini. Bechtold, Cavanagh, Shulman, Cauffman (2014), misalnya menemukan bahwa perilaku kriminal para remaja yang dimasukkan dalam penjara sudah dapat diramalkan sejak mereka masih berusia lebih muda. Orang tua, khususnya ibu, sudah memiliki kepekaan bahwa anaknya akan bertingkah laku kriminal kelak di kemudian hari. Kepekaan ibu ini muncul karena mendengarkan keluhan-keluhan yang dilontarkan anaknya bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil oleh lingkungannya, termasuk di sini perlakuan teman-teman sebaya, perlakuan guru, dan sebagainya. Mengalami ketidakadilan akan memupuk rasa dendam yang kemudian dilampiaskan melalui perilaku kriminal ketika situasi memungkinkan. Sungguh luar biasa pengaruh dari pengalaman ketidakadilan, ya?

Sampai di sini, tentu kita semakin yakin bahwa bersikap adil harus dipupuk sejak dini. Seseorang tidak bisa dituntut untuk memiliki sikap adil jika ia sendiri tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diperlakukan adil. Karena pengalaman diperlakukan tidak adil hanya memupuk rasa tidak berdaya dan ingin membalas dendam. Sebaliknya, pengalaman diperlakukan dengan adil akan memupuk sikap adil terhadap orang lain. Dengan demikian, bisa kita sepakati bahwa untuk menegakkan keadilan di muka bumi ini, semua pihak harus sungguh-sungguh mengusahakan terjadinya keadilan, mulai dari unit yang paling kecil, yaitu keluarga, sampai ke unit yang paling besar, yaitu dunia.