Dasar Alkitab untuk Menjalin Interaksi dengan Sesama


Dasar alkitab untuk menjalin interaksi dengan sesama adalah mengasihi sesama, termasuk menghargai dan memperlakukan orang lain dengan baik. Sekalipun mereka musuh kita.

Berikut adalah uraian tentang dasar alkitab untuk menjalin interaksi dengan sesama.

Prinsip menjalin hubungan dengan sesama sebetulnya hanya satu, yaitu saling menghormati. Ketika masih kecil, tentu kita pernah mengalami bagaimana orang-orang yang lebih tua dari kita mengejek kita, menganggap kita “anak bawang”. Bahkan ketika kita bertanya pun belum tentu mereka mau mendengarkan pertanyaan kita, apalagi menjawabnya. Mengalami perlakuan seperti ini bisa membuat kita memupuk rencana untuk “membalas dendam” ketika kita sudah dewasa kelak. Sayangnya, “membalas dendam” menjadi tema yang mewarnai bagaimana seseorang menjalani kehidupannya ketika ia dewasa. Tentu tidak ada damai sejahtera bila kita mengalami kondisi seperti ini.

Akan tetapi, bukan itu yang kita teladani dari Yesus karena Ia mengajarkan bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak-anak kecil. Kisah yang sangat terkenal adalah ketika Yesus mengajak murid-murid dan pengikut-Nya untuk menerima seorang anak kecil karena justru dalam kepolosannya, anak kecil akan memiliki Kerajaan Allah. Apa artinya?

“Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalanghalangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Lukas 18:15-17).

Sering kali orang dewasa tidak menganggap anak kecil itu penting. Namun bagi Yesus, kepolosan, ketulusan, dan kepercayaan yang dimiliki seorang anak merupakan modal untuk menyambut Kerajaan Surga. Bagi Yesus, tidak ada anak yang terlalu muda atau terlalu tidak berharga untuk tidak datang kepada-Nya. Justru sikap sebagai anak-anaklah yang diharapkan untuk kita miliki, yaitu percaya penuh pada kuasa dan kebesaran Tuhan, tidak bergantung pada kekuatan diri sendiri (Dieleman, 2005). Sikap seperti inilah yang dibutuhkan untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Yesus memberikan contoh bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini, yaitu mengagumi hal-hal yang menakjubkan bagi seorang anak, takjub kepada Tuhan dan karya-Nya, serta tetap memiliki harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Inilah sikap yang Tuhan harapkan dari manusia. Dengan demikian, kita sedang menyambut kerajaan Allah walaupun kita masih di dunia. Sama seperti Yesus menyambut gembira kesempatan bertemu dengan anak-anak, begitulah seharusnya kita menyambut kehadiran anak-anak yang berusia lebih muda dari kita dalam kehidupan kita.

Ketika kita berinteraksi dengan yang sebaya dan lebih tua, apakah kita juga dapat memperlihatkan sikap menghormati dan mengasihi? Alkitab Perjanjian Baru mencatat banyak sekali kejadian ketika Yesus menyampaikan pengajaran, bahkan menunjukkan bagaimana Ia mengasihi orang lain. Kita perhatikan saja dalam Lukas 6:27-36. Secara ringkas, dapat kita bedakan dua hal, sebagai cara berinteraksi dengan mereka yang menjadi musuh kita, dan cara berinteraksi kepada sesama. Kepada yang menjadi musuh kita, Yesus meminta kita untuk mengasihi mereka, berbuat baik, memintakan berkat, mendoakan, menyodorkan pipi yang satunya bila pipi kita ditampar, membiarkan ia mengambil milik kita, memberi kepada orang yang meminta kepada kita tanpa berharap dikembalikan.

Menurut Barclay (1973), perintah Yesus ini sangatlah sulit untuk dilakukan. Ada dua makna yang dapat kita pelajari di sini. Pertama, mengasihi orang yang kita kasihi menjadi jauh lebih mudah. Akan tetapi, mengasihi musuh membutuhkan modal yang lebih banyak karena ini bukan kecenderungan yang umumya dimiliki manusia. Hanya anugerah Yesus yang memampukan kita untuk melakukan hal ini. Tentu kita tidak dapat mengasihi musuh kita seperti kita mengasihi orang yang memang kita kasihi dan mengasihi kita. Akan tetapi, paling tidak kita dapat berusaha agar orang itu mendapatkan hal-hal yang baik. Justru hal ini menunjukkan bahwa bagi pengikut Kristus, berbuat kebaikan kepada musuh sekalipun merupakan suatu tindakan yang aktif, artinya harus kita usahakan, tidak bisa hanya berharap akan muncul begitu saja. Berbuat baik bukan sekadar menahan diri untuk tidak berbuat yang jahat, melainkan harus aktif melakukan sesuatu untuk membuat orang tersebut dalam hal ini musuh kita mendapatkan kebaikan.

Kedua, sebagai pengikut Kristus kita juga diperintahkan untuk melakukannya dengan usaha ekstra, dan sungguh-sungguh. Bila kita menyatakan diri kita sudah berbuat baik, siapakah yang kita jadikan perbandingan? Orang lain? Bukan! Yesus mau agar kita melihat kepada Dirinya sebagai model yang memang berbuat baik tanpa batas. Dengan demikian, kita menjadi anak-anak Allah (Lukas 6:35). Sama seperti Tuhan melimpahkan anugerah-Nya sampai membawa kita ke dalam kehidupan kekal, dengan tidak memperhitungkan segala dosa dan kesalahan, Tuhan juga meminta kita untuk bersikap murah hati kepada orang lain (Lukas 6:36).

Hanya dengan mengasihi dalam dimensi agape, kita bisa memutus mata rantai permusuhan yang membelenggu dunia. Apa yang disediakan dunia tidak cukup untuk menghapus kebencian dan kekejian. Akan tetapi, bila kita melihat bagaimana kasih Tuhan begitu besar, kita pun harusnya mau membagikan kasih itu sehingga setiap orang mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Billy Graham (2017) menegaskan bahwa kita akan dimampukan untuk mengasihi musuh bila kita menggunakan mata Tuhan melihat hal-hal baik yang memang ada pada tiap manusia karena dicitakan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam hal inilah kita selaku pengikut Kristus dapat menghadirkan Kerajaan Allah di bumi. Sungguh suatu tantangan untuk kita, ya?