Dasar Alkitab untuk Hidup Baru dan Maknanya


Dasar Alkitab untuk hidup baru adalah “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17)

Makn hidup baru adalah kekudusan. Karena Allah itu kudus dan tidak berdosa, maka hanya mereka yang suci hatinya yang dapat melihat Allah (Matius 5:8).

Berikut adalah uraian tentang Dasar Alkitab untuk Hidup Baru dan Maknanya.
Ajaran Yesus yang paling jelas tentang kelahiran baru dapat ditemukan dalam penegasan dan penjelasan-Nya di dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus (Yohanes 3), yang sangat terkenal. Perhatikan penjelasan Yesus pada ayaat 5, “… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Melalui ayat ini dapat disimpulkan dua alasan, yaitu:
Manusia, termasuk mereka yang paling cermat menjalankan Taurat, sudah mati, sehingga tidak lagi mampu mengikuti semua tuntutan Allah. Hanya Allah Sang Pemberi Hidup yang dapat mengaruniakan kehidupan rohani yang dibutuhkan umat manusia untuk menjalankan kehendak Allah.
Manusia sudah jatuh karena dosa, sehingga tidak terhitung lagi sebagai bagian dari Kerajaan Allah, malah kini ia hidup dalam kebinasaan dunia. Hanya dengan sifat rohani yang diberikan padanya melalui “lahir baru”, ia dapat memperoleh hidup rohani yang Allah tuntut dari manusia. Konsep ini kita temukan dalam penglihatan Yehezkiel tentang tulang-tulang yang mati (Yehezkiel 37:1-10). Hanya “napas Tuhan” saja yang dapat memulihkan kehidupan mereka yang telah mati secara rohani.

Jelas hal ini bukanlah karya manusia, melainkan karya Allah sendiri. Untuk memulihkan kondisi manusia yang sudah rusak itulah Yesus telah datang. Kata Yesus, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Ini tampak dalam perumpamaan tentang Anak yang Hilang yang mengatakan, “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali…” (Lukas 15: 24).

Pertanyaan yang sering muncul ialah, kapan lahir baru itu terjadi? Dalam hal ini, gereja-gereja mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Mereka dari gereja-gereja Pentakostal (Gereja Pantekosta di Indonesia, Gereja Bethel Indonesia, Gereja Bethel Injil Sepenuh, dan lain-lain) mengatakan bahwa lahir baru itu ditandai oleh baptisan oleh Roh Kudus, yang memampukannya untuk berbahasa Roh. Saat itulah seseorang diyakini sudah lahir baru (Fairchild, 2019).

Orang-orang Karismatik mempunyai pendapat lain. Menurut mereka bahasa Roh bukanlah tanda utama untuk lahir baru. Melainkan kemampuan untuk memiliki berbagai karunia Roh, seperti kata-kata hikmat, pengetahuan, iman yang bertambah, karunia penyembuhan, mukjizat, nubuat, kemampuan membeda-bedakan roh, berbagai bahasa Roh, dan kemampuan menerjemahkan bahasa Roh (Horton, 2011). Kita tidak perlu memperdebatkan isu di atas. Cukuplah kalau kita sudah mengetahui beberapa perbedaan yang ada pada sejumlah denominasi gereja.

Mari kita beralih ke Surat 2 Korintus! Surat ini dilatarbelakangi oleh kemarahan Paulus atas sikap sebagian warga jemaat yang meragukan panggilan Paulus sebagai seorang rasul. Hal ini jelas menimbulkan kekacauan dan pertikaian di antara jemaat Korintus. Kemarahan Paulus tampak dalam 2 Korintus 11:29, “… jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” Dalam Bahasa Inggris terjemahannya lebih jelas, “ … Who is made to stumble, and I am not indignant?” (NRSV New Revised Standard Version). Kata indignant jelas berarti marah.

Semua orang tahu bahwa Paulus tidak pernah menjadi murid Yesus dan tidak pernah berjumpa dengan Yesus saat Yesus masih ada di dunia, seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, dan lain-lain yang termasuk ke dalam 12 murid Yesus. Namun, jangan lupa bahwa Paulus berjumpa langsung dengan Yesus yang menampakkan diri-Nya pada perjalanan Paulus ke Kota Damaskus (Damsyik) untuk mengejar-ngejar orang Kristen dan menganiaya mereka (Kisah Para Rasul 9:4-6). Bahkan, Paulus sudah dipilih oleh Tuhan Yesus untuk menjadi hamba-Nya dengan pesan khusus, seperti firman-Nya kepada Ananias. “Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” (Kisah Para Rasul 9:15-16).

Perjumpaan itu telah mengubah perjalanan hidup Paulus secara total. Dari seorang penganiaya umat Kristen, ia berubah menjadi pemberita Injil yang paling bersemangat. Saking bersemangatnya, sebagian murid Yesus malah menjadi curiga terhadapnya, “Benarkah ia sungguh-sungguh sudah bertobat dan berubah?”

Namun, perjumpaan Paulus dengan Barnabas di kota Damaskus membuat Paulus kemudian dipercayai oleh para rasul yang lain. Karena itu, ia pun diterima oleh para rasul. Bahkan, kemudian Paulus menjadi tokoh terpenting dalam penyebaran ajaran Kristus ke berbagai wilayah di Asia Kecil. Paulus bahkan sampai di Roma dan pernah mempunyai rencana untuk berkunjung ke Spanyol, namun rencana itu gagal. Hingga matinya di Roma, Paulus tetap setia sebagai pengikut Kristus.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Bagaimana kita memahami ayat ini? Salah satu tafsiran mengatakan, “... konsekuensi Injil ialah bahwa Paulus tidak lagi memandang siapa pun menurut daging” (Haffeman, 2020). Istilah “daging” (sarx dalam bahasa Yunani) yang dipakai Paulus ini sangat rumit artinya. Alkitab NIV (New International Version) menggunakan 48 kata atau frasa dalam bahasa Inggris untuk menerjemahkan kata ini. Namun, menurut Haffeman, yang tampaknya dimaksudkan oleh Paulus ialah bahwa kita tidak lagi menilai seseorang dari sudut pandang dunia. Mengenal seseorang menurut daging bertolak belakang dengan mengenalnya menurut Roh. Mengenal seseorang menurut Roh adalah tanda zaman perjanjian yang baru, yang dicirikan dengan pencurah-an Roh Kudus.
Di kalangan gereja-gereja Protestan (Reformed) di Indonesia pada umumnya, baptisan kudus dipahami sebagai tanda dan meterai dari kelahiran baru seseorang. Namun, kapan tepatnya kelahiran baru itu terjadi adalah sebuah rahasia pada diri sendiri. Hal ini dinyatakan oleh Kanon Dordrecht. Menurut gereja-gereja Reformed, dilahirkan kembali merujuk kepada “pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita, yang mendorong orang berdosa untuk menjawab kepada panggilan yang efektif” (Reformed Church in America, 1992).