Dasar Alkitab tentang Allah sebagai Pembaru Hidup (Penjelasannya)


Berikut adalah penjelasan dasar alkitab tentang allah sebagai pembaru hidup
Kitab Ratapan adalah sebuah kumpulan puisi yang ditulis oleh Nabi Yeremia di Perjanjian Lama. Kitab ini ditulis pada saat orang Yehuda tinggal di pembuangan di Babel. Pembuangan itu dimulai oleh kehancuran Kota Yerusalem pada tahun 586 SM.

Saat itu, bangsa Israel terpecah menjadi dua kerajaan, yaitu Israel di utara dan Yehuda di selatan. Israel sudah lebih dahulu dihancurkan oleh Kerajaan Asyur pada tahun 721 SM. Asyur kemudian dikalahkan oleh Babel dalam peperangan panjang pada 626-609 SM.

Babel menggantikan Asyur, muncul sebagai imperium yang baru yang sangat besar kekuasaan- nya. Babel kemudian memperluas kekuasaannya hingga akhirnya berhasil menghancurkan Yerusalem, ibukota Yehuda. Banyak orang Yehuda yang ditangkap dan diangkut ke Babel.

Kitab Ratapan adalah sebuah kumpulan puisi yang meratapi kehancuran Yerusalem dan kerajaan Yehuda. Muncul pertanyaan, pada bangsa itu, bagaimana mungkin Yehuda dikalahkan oleh Babel, bahkan harus menderita di pembuangan di Babel? Bukankah mereka bangsa pilihan Allah? Lalu, bagaimana mungkin mereka bisa dikalahkan oleh bangsa kafir seperti Babel?

Penulis Ratapan, yang diduga adalah Nabi Yeremia, berkesimpulan bahwa itu semua disebabkan oleh dosa-dosa Yehuda. Yehuda telah mengabaikan Tuhan, Allah Israel. Mereka telah berdosa besar, kata Yeremia, “Sebab itu juga engkau membiasakan segala jalanmu kepada kejahatan. Sampai-sampai pada bajumu terdapat darah orang-orang miskin yang tidak bersalah; bukan waktu mereka membongkar untuk mencuri kaudapati mereka!” (Yeremia 2:33-34)

Di atas dijelaskan kesalahan Yehuda, di mana baju mereka berlumuran darah orang miskin yang tidak bersalah, yang mereka tuduh masuk membongkar rumah untuk mencuri.

Dengan kata lain, bangsa Yehuda telah menjungkirbalikkan hukum negara. Yang salah dibiarkan merampok, sementara yang tidak bersalah mereka jatuhi hukuman berat, hingga darah mereka ditumpahkan. Sungguh kejahatan yang sangat mengerikan!

Meskipun demikian, yang menarik dari Kitab Ratapan ini ialah pengakuan penulis Kitab terhadap Tuhan, Allah Israel, yang penuh kasih. Ayat yang menjadi dasar bahan ini memperjelas pemahaman penulis Kitab tentang Allah, “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat- Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23).

Walaupun kesengsaraan yang dialami oleh bangsa Israel adalah penghukuman Allah terhadap dosa-dosa yang telah mereka lakukan, tetap ada pengharapan bagi mereka yang mau berpaling kepada-Nya. Dyer (2004) mengingatkan bahwa walaupun Allah menghukum mereka yang berbuat dosa, pengampunan Allah yang sempurna tersedia bagi mereka yang mau mengakui dosa-dosa mereka dan kembali berbalik kepada Allah.

Mengakui bahwa diri berdosa ini yang seringkali tidak dilakukan karena banyak yang tetap menganggap diri mereka benar! Kecenderungan manusia adalah untuk melupakan bahwa Allah sebagai Pencipta Semesta adalah yang tetap berkuasa.