Contoh Artikel Tentang Keberagaman Ras, Etnis, Budaya, dan Agama


Berikut adalah contoh artikel tentang Keberagaman Ras, Etnis, Budaya, dan Agama.

Bertambahnya jumlah ras di suatu negara terjadi ketika negara tersebut mulai didatangi oleh imigran dari ras yang berbeda. Contoh paling jelas adalah negara Amerika Serikat yang semula hanya dihuni oleh Indian, namun sejak tahun 1776 saat diproklamasikan sebagai negara, justru dikuasai oleh kaum kulit putih dan kemudian juga dihuni oleh ras negroid dan mongoloid. Dari sini timbul istilah African-American yang merujuk pada pengertian ras negroid (yang lebih lazim disebut orang kulit hitam, yaitu black people atau dulu disebut Negro yang tinggal di Amerika dan sudah beregenerasi tinggal di situ).

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat beragam dari segi ras, etnis, budaya, adat istiadat, dan sebagainya. Penggalian fosil menemukan sedikitnya tiga jenis manusia purba di wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke (kompas.com, 2017), yaitu jenis Homo soloensis, Homo wajakensis, dan Homo floresiensis. Dinamakan demikian sesuai dengan lokasi fosil itu ditemukan. Homo soloensis ditemukan di lembah Bengawan Solo. Homo wajakensis ditemukan di area Tulungagung, Jawa Timur, sedangkan Homo floresiensis ditemukan di Flores.

Anehnya, manusia purba yang ditemukan di Flores atau disebut “The Hobbit” yang ditemukan fosilnya pada tahun 2003, bukanlah hasil evolusi dari manusia Jawa (Homo erectus) (kompas.com, 2017). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa The Hobbit ini lebih tepat dikategorikan sebagai manusia dari benua Afrika. Ini berarti bahwa sejak jutaan tahun yang lalu, di wilayah Indonesia sudah ada beberapa ras.

Bila kita perhatikan dengan saksama, mereka yang berasal dari suku Batak memang berbeda penampilan fisiknya dibandingkan dengan yang dari suku Aceh walaupun sama-sama di Sumatera Utara. Saudara-saudara kita di Maluku, Minahasa, Papua, dan Minangkabau juga memang berbeda secara fisik, bahasa, adat istiadat, dan artefak budaya lainnya. Ini justru memperkaya kita sebagai suatu bangsa dan negara yang berdaulat, lepas dari campur tangan negara lain yang ingin menguasai Indonesia.

Merujuk pada makna peribahasa ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,’ sangatlah tepat bagi negara Indonesia untuk memiliki moto “Bhinneka Tunggal Ika”. Apa saja makna yang ditemukan di balik moto ini? Seberapa pentingnyakah moto ini untuk kita? 

Bukan hanya secara fisik, etnis dan budaya, penduduk di wilayah NKRI pun memiliki keberagaman dalam hal agama dan keyakinan. Sejak tahun 2000, saat pemerintahan Presiden Abdurrachman Wahid, pemerintah resmi mengakui ada enam agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sejarah mengenai pengakuan enam agama ini memang cukup panjang, tetapi bukan itu fokus pembahasan kita kali ini. Pada bulan November tahun 2017, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa aliran kepercayaan atau juga disebut sebagai agama asli Nusantara, diakui oleh pemerintah. Keenam agama yang disebutkan terlebih dulu memang merupakan bawaan dari mereka yang datang ke wilayah Indonesia mulai abad pertama Masehi, sedangkan agama asli Nusantara sudah terlebih dulu ada sebelumnya.