9 Buah Roh Sebagai Karakter dan Sifat Seseorang Pengikut Kristus


Sebagai seorang pengikut kristus, tentu kita telah diajari bagaimana hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, yaitu memiliki dan menerapkan 9 buah roh.

Berikut adalah penjelasan 9 buah roh yang diajarkan kristus untuk kita pedomani dalam kehidupan sehari-hari.

1. Kasih
Kasih adalah yang pertama, dan dianggap sebagai hal utama yang mendasari karakter pengikut Kristus.

Kitab 1 Korintus 13: 13 menyatakan, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Kasih yang kita miliki adalah kasih yang sudah terlebih dulu dinyatakan oleh Tuhan kepada kita. Itu sebabnya, kasih kita harus mengikuti teladan yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus, yaitu kasih yang didasari oleh pengorbanan, dalam bahasa Yunaninya adalah agape.

2. Sukacita
Sukacita bukanlah yang kita cari-cari, melainkan ada di diri dalam kita, kita tidak lagi mencari-cari hal yang ada di luar diri kita untuk mendapatkan sukacita itu. 

Kita boleh membaca Efesus 5:19-20 dan Filipi 4:4 tentang sukacita yang pengikut Kristus rasakan ketika memuji Dia dan bersyukur untuk kasih-Nya.

Hal yang sering dianggap aneh oleh orang lain adalah bahwa orang Kristen tetap memuji Tuhan dan berdoa serta bersyukur walaupun dalam keadaan yang tidak menyenangkan.

Akan tetapi, untuk kita sebagai pengikut Kristus, hal itu tidaklah mengherankan, karena sukacita yang kita miliki, bukan hanya kita simpan untuk diri sendiri, melainkan kita ungkapkan. Misalnya, saat kalian sedih karena tidak ada yang mau berteman dengan kalian, kalian tetap dapat bersukacita karena Tuhan Yesus tidak akan pernah meninggalkan kalian.

3. Damai Sejahtera
Damai sejahtera merujuk pada keadaan utuh karena ada pemulihan, harmoni dengan keadaan sekitar.

Tuhan Yesus menegaskan dalam Yohanes 14:27 bahwa “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.

Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Damai tetap kita miliki dan rasakan walaupun kita berada di situasi yang menakutkan atau situasi penuh konflik.

Untuk kita, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7), tidak ada yang perlu kita takutkan karena pikiran dan perasaan kita terpusat pada Kristus dan kuasa-Nya.

4. Kesabaran
Kesabaran adalah keadaan ketika kita dapat menanggung hinaan, ejekan, bahkan tingkah laku merendahkan dan permusuhan dari orang lain.

Kesabaran barulah terlihat ketika kita berada dalam hubungan dengan orang-orang lain.

Pengertian kesabaran di sini juga mencakup ketahanan atau ketekunan kita mengerjakan apa yang menjadi tugas kita sampai selesai.

Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, kita akan semakin bertumbuh dalam kualitas kesabaran kita.

5. Kemurahan
Kemurahan adalah keadaan yang membuat kita rela berbagi dengan orang lain, menolong mereka yang butuh ditolong. 

Istilah lain yang dipakai untuk menyatakan kemurahan adalah kepedulian, ramah, dan tidak membalas kejahatan yang kita terima dengan kejahatan juga. Roh Kudus memampukan kita untuk semakin bertumbuh dalam kemurahan.

6. Kebaikan
Kebaikan merujuk pada keadaan ketika kita ingin membuat orang lain juga merasakan keadaan yang baik. Kita mendapatkan kebaikan dari Tuhan dan ini mendorong kita untuk membagikannya kepada orang-orang lain, sehingga mereka dapat merasakan indahnya hidup dalam persekutuan dengan Tuhan.

Dalam Galatia 6:9-10 tertulis, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Kebaikan kita adalah tanpa pamrih, artinya kebaikan yang dilakukan tanpa memperhitungkan apakah kita akan diuntungkan atau tidak. Kalian bisa melihat bahwa ada banyak rumah sakit, rumah yatim piatu, dan Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya yang didirikan karena ingin menolong mereka yang membutuhkan, umumnya yang memang hidup terlantar di jalanan.

7. Kesetiaan
Kesetiaan merujuk pada pengertian dapat dipercaya, dapat diandalkan, memiliki tekad untuk bertahan walaupun menghadapi kondisi yang sulit.

8. Kelemahlembutan
Kita belajar banyak dari kelemahlembutan yang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus. Di dalam kelemahlembutan ada unsur rendah hati, tidak menganggap diri sendiri penting, tetapi mendahulukan kepentingan orang lain.

Salah satu ayat Alkitab yang menjelaskan ini dapat ditemui di Galatia 6:1, “Saudarasaudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”

Orang yang bersalah tidak akan memperbaiki kesalahan karena dimarahi, tetapi karena ia diberi tahu dengan lemah lembut mengapa itu salah. Orang yang memberi tahu pun bukan melakukannya dengan tujuan menunjukkan dirinya lebih baik, tetapi karena ia ingin orang yang salah menjadi benar.

9. Penguasaan Diri
Penguasaan diri merujuk pada kemampuan menahan diri dari emosi negatif dan dorongan untuk memuaskan diri.

Di atas telah disinggung sedikit tentang hedonisme, yaitu merujuk pada tingkah laku yang mengutamakan kepuasan diri. Hal ini merujuk pada kualitas diri sendiri dan bukan pada sifat yang dimiliki Tuhan karena lebih berhubungan dengan kedagingan manusia.

Orang yang menguasai diri adalah yang tidak terpancing untuk cepat bereaksi terhadap apa yang didengar atau diterima dari pihak di luar dirinya.