Soal dan Jawaban materi Sistem Pengolahan Makanan Awetan dari Bahan Nabati – PKWU Kelas 10 SMA/SMK

Berikut adalah soal mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) Kelas X SMA/SMK materi Sistem Pengolahan Makanan Awetan dari Bahan Nabati lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Apa yang dimaksud dengan Produk makanan awetan?
  2. Jelaskan perbedaan makanan jadi dan makanan setengah jadi dan berika masing-masing 2 contohnya
  3. Apa yang dimaksud dengan makanan awetan dari bahan nabati
  4. Bagaimana proses pembuatan minuman lidah buaya?
  5. Jelaskan bagaimana strategi pemasaran produk lidah buaya
Kunci Jawaban:

1. Produk makanan awetan adalah produk makanan dan minuman yang sudah mengalami proses pengolahan sehingga mempunyai keawetan yang lebih tinggi.

2. Perbedaan makanan jadi dan makanan setengah jadi:
Makanan jadi adalah makanan yang dapat langsung disajikan dan dimakan. Contohnya keripik balado dari daerah Sumatera Barat dan kuku macan dari Kalimantan Timur.

Sedangkan makanan setengah jadi adalah makanan yang tidak dapat langsung disajikan dan dimakan, sehingga perlu proses untuk mematangkannya sebelum siap untuk disajikan dan dimakan. Contohnya kerupuk udang sidoarjo dan dendeng sapi aceh.

3. Makanan awetan dari bahan nabati ialah makanan yang awet yang berasal dari bahan baku tumbuh-tumbuhan, misalnya sayur-sayuran dan buah.

4. Berikut adalah proses pembuatan minuman lidah buaya, contohnya dalam kemasan mangkok plastik 240 gram.

Bahan yang digunakan dalam membuat minuman lidah buaya antara lain:
  • Lidah buaya segar
  • Gula
  • Asam sitrat
  • Penguat rasa (flavor)
Alat-alat yang digunakan:
  • Pengemas cup
  • Pisau
  • Talenan
  • Baskom
  • Panci stainless steel (pengganti tangki pencampuran dan tangki pasteurisasi)
  • Kompor
  • Filling sealing machine (boleh menggunakan yang manual)
  • Literan
  • Timbangan
  • pH meter
  • Refraktometer
  • Dan lain-lain
Langkah-langkah pembuatan:
Lidah buaya yang akan digunakan, diseset kulitnya, kemudian dipotong dan dicuci. Lakukan pencucian menggunakan air hangat untuk menghilangkan lendir. Jika masih tersisa lendir, bisa dilakukan perendaman dalam air kapur. Selanjutnya, potongan lidah buaya dimasukkan ke dalam kemasan.

Potongan lidah buaya dan sirupnya dimasukkan ke dalam kemasan dengan perbandingan tertentu. Proses pengisian ini harus memperhatikan keseragamannya, jumlah padatan (lidah buaya) dan cairan (sirup). Keseragaman ini sangat penting untuk pencapaian proses panas yang optimal bagi keseluruhan produk. Jika pada pengisian ini tidak baik, panas yang diterima produk dalam tiap kemasan akan berbeda. Pada proses pengisian, sirup harus dalam keadaan panas untuk menciptakan kondisi hot filling.

Kemasan yang telah terisi harus segera ditutup untuk menghindari kontaminasi. Setelah itu, dilakukan pasteurisasi pada suhu 65 oC selama 55 menit. Untuk menghindari over cooking dan memberikan shock thermal pada bakteri termofilik, produk yang telah dipasteurisasi didinginkan dengan air mengalir sampai mencapai suhu 40 oC.

Setelah dilakukan proses pendinginan, dan diangin-anginkan (agar airnya kering), dilakukan pemberian label, setelah itu dikemas ke dalam karton. Kemudian, sebelum dipasarkan, dilakukan inkubasi 2-3 hari, untuk melihat kestabilan mutu produk tersebut. Pada karton, ditulis saran cara penanganan produk tersebut, yaitu harus disimpan di suhu sejuk, tidak boleh terkena sinar matahari langsung, tidak boleh langsung berhubungan dengan lantai/ dinding, dan batas maksimum penumpukan karton adalah 10 karton.

5. Adapun strategi pemasaran produk lidah buaya adalah sebagai berikut:
  • Tahap pertama dimulai dengan yang kecil, kenalkan lidah buaya kepada teman teman dekat, teman sekolah, tetangga di sekitar komplek, atau teman bermain. Berilah sedikit tes produk agar mereka bisa mencicipi lidah buaya buah buatan anda supaya mereka tertarik membeli.
  • Bila lidah buaya mulai bisa diterima dan banyak penggemar, mulailah merambah pasar baru dengan menitipkannya di warung, di toko, atau di kantin sekolah.
  • Manfaatkanlah teknologi internet dan social network seperti facebook dan twitter sebagai sarana penjualan yang lain, perbanyaklah teman dan follower, untuk memperluas pemasaran. Bisa juga dengan membuat blog gratis atau website yang berbayar dengan relatif terjangkau harganya.
  • Gunakan penjualan yang kreatif yang hanya sedikit orang menjalaninya. Sebagai contoh bisa memanfaatkan munculnya fenomena “pasar kaget” di hampir setiap kota di Indonesia, juga saat ada momen “Car free day”, atau pada kesempatan lainnya