Soal dan Jawaban materi Perang Melawan Penjajahan Kolonial Belanda - Sejarah Indonesia XI SMA/SMK

Berikut adalah soal mata pelajaran Sejarah Indonesia XI SMA/SMK materi Perang Melawan Penjajahan Kolonial Belanda lengkap dengan kunci jawaban.

Soal Essay:
  1. Rakyat Tondano harus membayar ganti rugi dengan menyerahkan 50-60 budak sebagai ganti rugi rusaknya tanaman padi karena genangan air Sungai Temberan. Coba telaah secara kritis ancaman Belanda padahal yang membendung Sungai Temberan itu Belanda. Bagaimana penilaian kamu tentang sikap Belanda yang demikian. Sikap ini merupakan sikap kolonialisme dan imperialisme yang akan terus berlangsung termasuk sampai sekarang. Berikan contoh!
  2. Rumuskan latar belakang terjadinya perlawanan Pattimura di Saparua?
  3. Perang Padri fase kedua sebenarnya merupakan salah satu strategi perang Belanda semacam “gencatan senjata” atau “peredaan”. Mengapa demikian, apa tujuan yang ingin diraih Belanda? Jelaskan!
  4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan strategi winning the heart ?
  5. Pangeran Diponegoro memimpin perang dengan berlandaskan pada nilai-nilai kesyukuran dan keimanan. Jelaskan!
  6. Apa yang dimaksud dengan Benteng Stelsel, bagaimana pelaksanaannya?
  7. Apa yang dimaksud Hukum Tawan Karang? Mengapa Belanda menentang Hukum tersebut?
  8. Coba jelaskan secara singkat latar belakang dan sebab-sebab terjadinya Perang Banjar!
  9. Rakyat Aceh memiliki semboyan dan doktrin “syahid atau menang” Coba jelaskan makna semboyan itu bagi perjuangan rakyat Aceh dalam melawan Belanda!
  10. Mengapa Sisingamangaraja XII menentang Kristenisasi yang dilakukan Belanda?

Kunci Jawaban

1. Dalam konsep kolonialisme, pemerintahan bersifat komando, ditambah sikap diskriminatif antara kelompok penjajah dengan masyarakat jajahan. Peristiwa tondano mencontohkan bahwasanya keegoisan Belanda yang bersikap sewenang wenang. Dalam hal ini mereka mendapatkan kerugian karena hasil tanam tidak tercapai dan imbasnya mereka mencoba memenuhi neraca dagangnya dengan cara mengambil budak.

Hal lain adalah sikap kolonialisme ini menganggap bangsa jajahannya bukan sebagai manusia yang memiliki hak dan kewajiban tapi lebih sebagai obyek keuntungan atau dalam bahasa kolonialnya properti perdagangan.

Saat ini sikap kolonialisme ini masih terdapat dalam era modern seperti ekspansi perusahaan asing ke negara negara berkembang. Contohnya kolonialisme dibidang kelautan oleh negara asing di laut Indonesia. Mereka mencuri hasil ikan dan tidak menghormati kedaulatan Indonesia ataupun tidak membayar pajak ke pemerintah.

2. Latar belakang terjadinya perlawanan Pattimura di Saparua adalah:
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, kegiatan monopoli di Maluku kembali di perketat. Dengan demikian beban rakyat semakin berat. Sebab selain penyerahan wajib , masih juga harus dikenai kewajiban kerja paksa, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi. Kalau ada penduduk yang melanggar akan di tindak tegas. Serta para guru akan diberhentikan untuk penghematan dan para pemuda akan dikumpulkan untuk dijadikan tentara di Maluku. Ditambah dengan sikap arogan Residen Saparua. Itulah yang melatarbelakangi perlawanan Pattimura di Saparua.

3. Perang Padri fase kedua sebenarnya merupakan salah satu strategi perang Belanda semacam “gencatan senjata” atau “peredaan”, karena penjajah Belanda kesulitan melawan pasukan kaum padri yang di pimpin oleh Tuanku imam Bonjol dan Belanda sedang berperang dengan Mataram di pulau Jawa yaitu perang Diponegoro.

Setelah perang Diponegoro selesai, yang terjadi adalah Belanda berulah kembali yang bertujuan untuk menundukkan kaum Padri di Sumatera Barat.

4. Strategi winning the heart adalah strategi yang dilakukan oleh Van de Bosch untuk memenangkan hati kaum padri dengan menghapus pajak pasar, pegawai dan juragan di gaji oleh Belanda.

5. Pangeran Diponegoro memimpin perang dengan berlandaskan pada  nilai-nilai kesyukuran dan keimanan, karena beliau tidak menginginkan timbulnya darah yang merugikan banyak masyarakat. Oleh karena keinginan menghindari kerugian dan pertumpahan darah dari semua pihak inilah maka ketika memimpin perang melawan Belanda dia mengungsikan pengikutnya ke Bukit Selarong.

6. Benteng Stelsel adalah rangkaian benteng yang dibuat Belanda untuk membatasi gerakan pasukan Diponegoro.

Untuk dapat mempersempit kedudukan Pangeran Diponegoro, Belanda membangun serangkaian benteng di Semarang, Ambarawa, Muntilan, Kulon Progo, dan Magelang. Total Belanda mendirikan sekitar 165 benteng baru yang tersebar di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.

Dengan benteng-stelsel, Belanda bisa menempatkan pasukannya dengan terlindung di benteng, dan kemudian pasukan ini dapat menyerang bila pasukan Diponegoro bergerak. Ini membuat perlawanan Diponegoro mengalami kekalahan.

7. Hukum Tawana Karang adalah hak istimewa yang dimiliki raja-raja bali pada masa lalu, yang mana setiap kapal-kapal yang berlayar di wilayah pantai Buleleng tampa ada persetujuan dari raja-raja bali akan di sita barang yang ada di dalam kapal.

Belanda menentang Hukum Tawan Karang karena hukum tersebut merugikan Pihak Belanda, salah satu contohnya ketika Kapal dagang belanda (Kapal Overisjel) yang disita di pantai Buleleng.

8. Latar belakang dan sebab-sebab terjadinya Perang Banjar adalah sebagai berikut:
  • Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Kerajaan Banjar
  • Pemerintah Kolonial Belanda Ikut mencampuri urusan Dalam Keraton Terutama Dalam pergantian Sultan dan Kerajaan Banjar
  • Pemerintah Kolonial Belanda mengumumkan bahwa Kesultanan Banjar akan dihapuskan..
9. Rakyat Aceh memiliki semboyan dan doktrin “syahid atau menang”, dimana apabila seseorang mati di dalam keadaan perang atau pertempuran, maka ia akan masuk surga bersama Tuhan. Menang-kalah tidaklah menimbulkan suatu kerugian karena jika menang maka suatu kaum dapat bebas di dalam menjalankan pemerintahan dan kekangan kolonial, jika kalah maka ia dianggap sebagai pahlawan yang telah membela Tuhan dan negaranya dan akan bersama Allah di hari akhir karena telah memperjuangkan tanah dan agamanya.

Makna semboyan itu bagi perjuangan rakyat Aceh dalam melawan Belanda adalah bahwa rakyat Aceh tidak boleh berputus asa, karena mereka hanya memiliki 2 pilihan, antara menang dalam pertempuran atau mati dalam keadaan syahid. Tujuan dari semboyan ini adalah memotivasi rakyat aceh agar selalu menang melawan Belanda karena sama sekali membuat keuntungan bagi yang berjuang.

10. Sisingamangaraja XII menentang Kristenisasi yang dilakukan Belanda karena dikhawatirkan perkembangan agama kristen itu akan menghilangkan tatanan tradisional dan bentuk kesatuan negeri yang telah ada secara turun temurun.