Jika perempuan haid tetap wajib berihram sebagaimana jemaah yang lain, lantas apakah dia juga disunahkan mandi ihram?

Menurut Imam al-Syairazi, setiap orang disunahkan mandi terlebih dahulu sebelum berihram.  Mandi  ini  dianjurkakan  bagi semua orang tidak terkecuali, baik yang sedang berhadas besar maupun tidak. Oleh karena itu, perempuan haid juga disunahkan mandi, apakah ketika akan berihram haji atau umrah. Bahkan menurut al-Nawawi, hukum mandi ihram adalah sunah yang sangat dianjurkan (sunnah mu'akkaah) dan makruh untuk ditinggalkan.

Menurut para ulama, mandi sunah ihram bukan untuk menghilangkan hadas (li raf' al- hadats) haid maupun nifas. Perempuan haid atau nifas tetap wajib mandi jinabat setelah darah haid atau nifasnya berhenti. Mandi ihram bagi jemaah—termasuk perempuan haid atau nifas—bertujuan untuk membersihkan tubuh (li al-nazhafah) dan berfungsi untuk menghilangkan aroma badan yang kurang sedap (li izalah al-raĆ­hah). Seperti telah maklum, jemaah haji maupun umrah akan berinteraksi dengan banyak orang. Aroma tubuh yang kurang sedap pasti akan mengganggu jemaah lain. Itulah mengapa mandi ihram disunahkan bagi seluruh jemaah, termasuk perempuan yang sedang haid atau nifas.

Di antara manfaat mandi sunah ihram bagi perempuan haid adalah bisa sekaligus membersihkan dan menyucikan darah yang keluar. Tubuhnya menjadi lebih segar dan tentunya lebih sehat. Belum lagi secara tinjauan medis, perempuan haid memang dianjurkan sesering mungkin mengganti pembalut. Darah haid yang dibiarkan terlalu lama akan memengaruhi kesehatan tubuh perempuan.