Apakah perempuan yang wuquf di-sunahkan untuk puasa sunah Arafah?

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai kesunahan puasa Arafah bagi jemaah haji. Ada ulama yang menyebutkan, puasa Arafah juga sunah bagi jemaah haji yang sedang wuquf di padang Arafah. Namun mayoritas ulama madzhab Syafi'i, Maliki, dan Hanafi berpendapat bahwa puasa Arafah hanya berlaku bagi orang- orang yang tidak sedang wuquf di padang Arafah. Jemaah haji yang sedang wuquf tidak disunahkan berpuasa hari Arafah.

Menurut al-Nawawi, alasan mengapa jemaah haji tidak disunahkan puasa, tidak lain agar kondisi fisik mereka menjadi lebih kuat. Dengan demikian, mereka bisa melakukan rangkaian ibadah haji, membaca dzikir, dan memanjat doa secara maksimal. Mengingat doa yang paling utama adalah doa yang dipanjatkan pada hari Arafah. Dan doa yang dipanjatkan pada hari Arafah adalah doa yang mustajab.

Namun demikian, mayoritas ulama tidak menganggap puasa Arafah sebagai sesuatu yang makruh bagi jemaah haji yang sedang wuquf. Jemaah haji yang tetap berpuasa Arafah dianggap telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan yang lebih utama (khilaf al-aula). Dengan kata lain, jemaah haji justru disunahkan untuk tidak berpuasa ketika wuquf. Menurut sebagian ulama, status hukum khilaf al-aula lebih ringan atau tidak mencapai level makruh.

Kesimpulannya, jemaah haji yang sedang wuquf di Arafah justru sunah untuk tidak berpuasa. Lantaran Rasulullah saw sendiri tidak berpuasa ketika sedang wuquf. Seandainya dia merasa kuat dan tetap ingin berpuasa Arafah, maka tidak menjadi masalah. Dia tidak dianggap melakukan sesuatu yang bersifat makruh, hanya telah melakukan perbuatan yang khilaf al-aula.