Apakah perempuan yang mengalami ISTIHADHAH boleh melakukan thawaf?

Sebagian jemaah perempuan ada yang mengalami pendarahan di luar siklus menstruasi. Darah ini tentunya bukan darah haid sebagaimana umumnya. Kondisi ini dalam disiplin ilmu fikih disebut dengan istilah istihadhah. Menurut para ulama, darah istihadhah tidak sama dengan darah haid. Karena berbeda, maka status perempuan istihadhah juga tidak sama dengan status perempuan haid. Kalau perempuan haid diharamkan shalat, perempuan istihadhah justru diperintahkan shalat. Jika perempuan haid dilarang melakukan thawaf, perempuan istihadhah justru diizinkan untuk thawaf. Kalau perempuan haid dianggap sedang berhadas besar, maka menurut al-Barkawi perempuan istihadhah dianggap sedang berhadas kecil.

Dalam madzhab Syafi'i, perempuan istihadhah diqiyaskan seperti orang beser (salis al-baul), yakni orang yang tidak bisa menahan kencing. Perempuan istihadhah maupun orang beser dikategorikan sebagai orang yang berhadas kecil secara terus-menerus. Situasi seperti inilah yang menyebabkan mereka dianggap tidak seperti kondisi orang kebanyakan, sehingga banyak mengalami kesulitan.

Islam banyak memberikan keringanan (rukhshah) bagi siapa saja yang mengalami keterbatasan. Hal ini juga yang berlaku bagi perempuan istihadhah. Darah yang terus keluar akibat istihadhah tentu membuatnya sulit terhindar dari najis, bahkan ketika melakukan thawaf. Dalam kondisi seperti inilah dia diinzinkan untuk menunaikan thawaf sekalipun sambil membawa najis.